''Ya geser kanan dikit tahan, ya oke satu kali lagi yah oke tahan senyumya lepas aja,yap dapat oke thank you'' Dengan sigap Dika memainkan kamera dan bersiap mengemasi lens-lens yang masih terpasang.
''Gimana mbak Emma, Ra?'' Tanya Dika sambil terus mengotak-atik lens kameranya.
Ara tersentak kaget dengan pertanyaan Dika dan menjawabnya sambil membolak-balik buku jadwal.
''Ya masih gitu-gitu aja kata dokter sih mesti sering diajak jalan atau apalah supaya gak terlalu jadi pikiran''
''Ya kamu bawa jalan dong,bener lo kondisi psikologis orang sedikit banyak mempengaruhi kesehatannya''
''Iya dokter juga bilang gitu,cuma aku aja susah komunikasi dengan mbak Emma, aku tuh bingung mas gak tau deh'' Dengan wajah risau mencoba tenang.
''Hmm.. Sulit emang Ra, yang sabar aja jangan putus asa toh cuma kamu kan?!''Menegaskan ke Ara dengan tatapan meyakinkan.
''Iya mas aku tau aku juga gak bisa tanpa mbak Emma.'' Seolah mengerti yang dimaksud Dika.
''kayaknya aku yang butuh psikolog''sambil tersenyum datar.
''Semangat Ra,.
...eh iya habis ini jadi dengan model anak SMA itu?'' Dika mencoba mengalihkan pembicaraan.
''Iya mas, eh iya kemaren ada surat dari bagian redaksi suruh mas ngambil laporan yang kemaren, udah katanya''Sambil menyodorkan surat tersebut.
''Ih ni orang lama banget selesenya, ya udah besok kita kesana deh Ra,''mengambil surat itu dan berkomentar tentang keterlambatan responnya.
''Ya, mungkin urusan intern kali mas''Ara menanggapi asal.
''Apapun lah''Celetuk Dika.
Hari itu dihabiskan Ara seorang asisten fotografer cukup ternama Dika Prawira di kantor majalah remaja ternama dikota itu dengan rutinitas yang sangat menyibukkan. Ara sebenarnya wanita yang kreatif dan loyal atas pekerjaan hanya akhir-akhir ini semenjak mbak Emma kakaknya satu-satunya mengidap penyakit kanker fikirannya terbagi atas kesehatan kakaknya.
Terlebih keadaan psikologis mbak Emma yang tidak menentu menjadi sesuatu yang menganjal di hati dan fikirannya.
(To be continue)
No comments:
Post a Comment