PENDAHULUAN
Seiring dengan berjalannya zaman kebutuhan manusia akan tanah semakin beragam. Lahan-lahan yang tadinya digunakan sebagai pertanian telah banyak dialih fungsikan untuk berbagai kebutuhan lain. Areal persawahan serta daerah resapan sudah jarang ditemui karena banyak yang beralih fungsi. Sebagian tanah yang digunakan cocok untuk perencanaan tertentu namun sebagian lagi juga ada yang tidak sesuai baik ditinjau dari keadaan tanahnya maupun topografi dan sosialnya.
Perubahan tata guna lahan yang bergerak sangat cepat secara tidak langsung akan memberikan dampak pada daerah yang mengalami perubahan tersebut maupun daerah sekitarnya. Pembangunaan areal industri disekitar pemukiman yang bisa menyebabkan pencemaran limbah pada masyarakat disekitar akibat limbah pabrik. Penebangan hutan besar-besaran tanpa dibarengi kegiatan reboisasi sehingga rawan terjadi longsor. Walaupun tidak semua perubahan tata guna lahan berakibat buruk, pemangkasan hutan secara berkala dan dibarengi dengan reboisasi dapat membuat keuntungan dari segi ekonomi dan juga mencegah terjadinya longsor. Namun hal tersebut hanya sebagian kecil dari dampak baik yang dapat ditemukan.
Perencanaan tata ruang wilayah merupakan suatu upaya mencoba merumuskan usaha pemanfaatan ruang secara optimal dan efisien serta lestari bagi kegiatan usaha manusia di wilayahnya yang berupa pembangunan sektoral, daerah, swasta dalam rangka mewujudkan tingkat kesejahteraan masyarakat yang ingin dicapai dalam kurun waktu tertentu.
Suatu wilayah baik di pedasaan maupun di perkotaan menampilkan wujud yang rumit, tidak teratur dan dimensi yang heterogen. Kenampakan wilayah perkotaan jauh lebih rumit dari pada kenampakan daerah pedesaan. Hal ini disebabkan persil lahan kota pada umumnya sempit, bangunannya padat, dan fungsi bangunannya beraneka. Oleh karena itu sistem penginderaan jauh yang diperlukan untuk penyusunan tata ruang harus disesuaikan dengan resolusi spasial yang sepadan.
Dari uraian diatas tampaklah penginderaan jauh sangatlah bermanfaat untuk merencanakan pemanfaatan lahan sesuai dengan kebutuhan manusia yang semakin beragam tanpa meninggalkan kaedah-kaedah alam.
PEMBAHASAN
Pemanfaatan tanah hendaknya disesuaikan dengan kondisi tanah yang akan digunakan. Tanah yang akan digunakan dilihan tekstur, strukturnya secara keseluruhan dilihat kimia, fisika dan biologinya. Namun dengan perkembangan yang sangat pesat dan tak jarang sulit untuk melakukan perencanaan yang matang sehingga mengakibatkan lahan terpakai sesuai dengan kebutuhan saja tanpa melihat kaedah dari tanah itu sendiri.
Semakin pesatnya pertumbuhan penduduk dan pembangunan yang telah dilaksanakan akan berpengaruh cukup besar terhadap perubahan tatanan lingkungan berupa menurunnya kualitas lingkungan, degradasi lingkungan/kerusakan lingkungan serta berkurangnya sumberdaya alam maupun perubahan tata guna lahan.
Daerah perkotaan misalnya lebih banyak digunakan sebagai permukiman dan tempat industri. Sangat jarang tampak sawah dan daerah resapan pada daerah perkotaan. Hal ini jika telah dilakukan perencanaan yang matang dan meninjau keadaan tanah pada daerah tersebut maka tidak akan menjadai masalah, namun jika hal tersebut seolah dipaksakan untruk kebutuhan yang mendesak maka tak jarang kita lihat perkotaan yang mengalami banjir pada daerah-daerah tertentu akibat dari perencanaan penggunaan lahan yang baik dan matang.
Faktor pengaruh utama perkembangan dan pertumbuhan kota adalah peningkatan jumlah penduduk dan berbagai macam aktivitasnya. Pertumbuhan penduduk baik yang terjadi secara alami maupun secara migrasi meningkatkan jumlah penduduk yang ada di kota. Pertumbuhan ini tentunya menimbulkan peningkatan aktivitas kota yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah kepadatan kota. Permasalahan yang sering terjadi terkait dengan perkembangan dan pertumbuhan kota yaitu permasalahan mengenai terbatasnya luas lahan yang terdapat di kota. Lahan sebagai sumber daya yang tidak dapat diperbarui memiliki jumlah dan kapasitas yang terbatas. Perkembangan kota menuntut ketersediaan lahan yang cukup untuk mendukung penduduk dengan segala aktivitasnya. Hal inilah yang banyak menimbulkan konflik penggunaan lahan di kota-kota di Indonesia. Pada akhirnya keterbatasan lahan yang dimiliki kota memaksa kota berkembang ke wilayah pinggiran.
Dengan permasalahan diatasa maka untuk dilakukannya pemantauan akan penggunaan lahan pada wilayah dibutuhkan suatu data yang dapat diakses cepat dan dapat dimanipulasi dengan mudah. Sebenarnya beberapa metoda dapatt dlakukan untuk menjawab permasalahn tersebut misalnya yaitu melalui metoda konvensional yaitu pengukuran langsung dilapangan atau melalui metoda fotogrametri dari daerah tersebut. Namun metoda tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pengambilannya pun mengalami kesulitan dan dalam beberapa waktu bisa saja penggunaan lahan dapat berubah sehingga mengganggu perencanaan pada akhirnya.
Dalam beberapa waktu belakangan ini banyak cara yang dapat digunakan dari perkembangan teknologi. Data yang diperoleh tergolong cepat dan dapat dimanipulasi untuk perencanaan. Selain itu data yang diperoleh akurat dan cakupan wilayah yang didapat cukup luas sehingga perencanaan wilayah yang akan dilakukan dapat kompleks. Teknologi tersebut yaitu penginderaan jauh yang memiliki kemampuan menyediakan data dari satelit LANSAD yang memberikan data terbaru setiap 16 hari sekali atau SPOT setian 26 hari sekali sehingga perencanaan wilayah dapat dikerjakan dengan matang dan akurat.
Penginderaan jauh yaitu suatu metoda untuk mengenal dan mengidentifikasi, menginventarisasi suatu objek tanpa bersentuhan langsung dengan objek itu sendiri. Sedangkan menurut Sutanto (1992) penginderaan jauh secara umum yaitu suatu metode atau cara atau teknik untuk memperoleh informasi atau data suatu objek pengamatan atau fenomena alam dengan menggunakan alat tanpa harus bersentuhan langsung dengan objek atua fenomena yang diamati. Penginderaan jauh (inderaja) adalah ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) untuk memperoleh, mengolah dan menganalisa data untuk mengetahui karakteristik objek tanpa menyentuh objek itu sendiri (Lillesand dan Kiefer, 1994)
Adapun tujuan dari penginderaan jauh ini berkorelasi langsung dengan kepentingan inventarisasi sumber daya alam atau dari segi pertahanan keamanan dapat sebagai spionase pertahanan keamanan negara. Dengan kegunaannya yang sangat mendukung perencanaan wilayah ini maka penginderaan jauh sangat memberi manfaat yang nyata.
Data penginderaan jauh digital mempunyai sifat khas yang dihasilkan oleh setiap sensor. Sifat khas data tersebut dipengaruhi leh sifat orbit satelit, sifat dan kepekaan sensor penginderaan jauh terhadap panjang gelombang elektromagnetik, jalur transmisi yang digunakan, sifat sasaran (obyek) dan sifat sumber tenaga radiasinya. Sifat orbit satelit dan cara operasi sistem sensornya dapat mempengaruhi resolusi dan ukuran piksel datanya Purwadhi, (2001) dalam (Imjaelani, 2006).
Prinsip penginderaan jauh diantaranya melibatkan tiga komponen diataranya target atau objek, sensor dan receiver atau penerima. Target atau objek merupakan sasaran penginderaan jauh, target dalam penginderaan jauh disesuaikan dengan kebutuhan interpreter atau pengamat. Jika yang akan diamati yaitu adalah sumber daya alam maka targetnya yaitu sumberdaya alam seperti tanah, hutan, bahan tambang dan sebagainya namun jika yang akan diamati yaitu sumber daya buatan maka yang diamati yaitu sumber daya buatan seperti perumahan, perkantoran, sawah dan sebagainya. Sensor yaitu adalah alat peraba yang menangkap spectrum elektromagnetik dengan menggunakan alat optik ataupun tidak menggunakan alat optik. Sinar yang dimaksud bisa berasal dari sinar matahari ataupun sinar buatan. Receiver yaitu adalah penerima hasil pantulan dari target atau objek. Penerima atau receiver yang dimaksud bisa berupa atmosfer ataupun antena yang peka terhadap spetrum elektromagnetik.
Dari ketiga prinsip tersebut kita dapat melakukan penginderaan jauh sehingga mendapatkan data yang dibutuhkan sesuai dengan kebutuhan. Perecanaan tata guna lahan misalnya, biasanya dilakukan oleh cahaya alam atau sinar matahari lalu dilanjutkan ke receiver yang dapat menangkap spectrum elektromagnetik. Hasil penginderaan jauh ini dapat diteruskan untuk proses selanjutnya ke software yang dapat membaca data penginderaan jauh.
Dalam perencanaan suatu wilayah kita membutuhkan data penggunaan lahan yang dapat diperoleh dari sistem penginderaan jauh. Data penginderaan jauh dapat berupa foto satelit atau potret udara yang nantinya akan dilakukan interpretasi dari data tersebut.
Interpretasi citra adalah perbuatan mengkaji foto udara atau citra satelit dengan maksud untuk mengidentifikasi objek dan menilai arti pentingnya objek tersebut. Di dalam pengenalan objek yang tergambar pada citra, ada tiga rangkaian kegiatan atas adanya objek, identifikasi, dan analisis. Interpretasi visual dilakukan pada citra hardcopy ataupun citra yang tertayang pada monitor komputer.
Interpretasi citra pada dasarnya terdiri atas dua kegiatan utama yaitu penyadapan data dari citra dan penggunaan data tersebut untuk tujuan tertentu. Penyadapan data dari citra berupa pengenalan objek yang tergambar pada citra serta penyajiannya ke tabel, grafik, dan peta tematik. Adapun tahap interpretasi citra tersebut diantaranya:
a. Photo reading yaitu merupakan tahapan membaca foto atau data potret udara. Tahapan ini dibagi menjadi tiga yitu:
1. Detection yaitu menemukan sesuatu yang ada pada foto.
2. Recognation yaitu mengenali objek melalui unsur interpretasi.
3. Identification yaitu mengidentifikasi suatu objek dengan nama tertentu.
b. Analisa yaitu membagi foto udara kedalam bagian-bagian constituen yang dikerjakan dengan dasar evaluasi kualitatif dan kuantitatif dari setiap objek tertentu dan bentuk-bentuk tertentu.
c. Klasifikasi yaitu merupakan deskripsi dari kenampakan objek yang dibatasi oleh analisis yang disusun kedalam sistem untuk pengkajian medan dan modofikasi untuk menyatakann sistem tersebut. Untuk kepentingan pemetaan, klasifikasi sangat diperlukan dalam ppengelomppokan objek atau unit tertentu.
d. Deduksi yaitu bertujuan untuk memperoleh informasi yang tidak mungkin diamati dari foto image itu sendiri. Dedukasi disebut juga fase yang mendalami tentang kombinasi dari pengamatan pada foto udara daan pengetahuan dari berbagai sumber. Istilah deduksi juga dipergunakan bila interpreter sampai pada kesimpulan ke satu titik.
e. Idealisasi yaitu merupakan fase atau tahapan terakhir dalam pekerjaan interpretasi potret udara berupa pekerjaan kartografi, yaitu pengkajian hasil interpretasi ke dalam bentuk peta.
Dalam hasil akhir untuk survei tata guna lahan yaitu berupa peta tata guna lahan yang dapat dijadikan pedoman informasi tata guna lahan disuatu daerah tersebut.
Jika dalam permasalahan yang lain kita ambil contoh pemanfaatan penginderaan jauh untuk identifikasi lahan kritis pada Sub-DAS. Identifikasi lahan kritis aktual pada Sub-DAS yang mempunyai proporsi lahan kritis yang tinggi adalah prioritas dari kegiatan perencanaan penghijauan. Daerah yang miskin vegetasi dan berlokasi pada lahan yang miring (terain berbukit dan pegunungan) yang diidentifikasi dari citra satelit mengindikasikan kondisi kritis yang aktual. Secara umum lahan kritis aktual diasosiasikan dengan reflektansi yang rendah pada citra satelit, ini berarti bahwa pada citra komposit warna alami (true colour) daerah yang mempunyai kenampakan merah terang (cerah) mengindikasikan miskin vegetasi dan biomassa atau kondisi lahan terbuka. Identifikasi lahan kritis aktual adalah didasarkan kombinasi hasil interpretasi citra satelit dan pengecekan lapangan Kucera, (2000) dalam (Makara, 2003)
KESIMPULAN
Penginderaan jauh merupakan salah satu metoda untuk mengodentifikasi, menginfetarisasi suatu objek tanpa harus bersentuhan langsung dengan objek tersebut. Penginderaan jauh dapat menjadi alat untuk menjawab permasalahan penginfinventarisasi sumber daya alam. Baik itu kegunaannya dalam survei tata guna lahan ataupun untuk pertahanan keamanan negara.
Penginderaan jauh memiliki tiga prinsip dalam prosesnya yaitu target, sensor dan receiver yang ketiganya berkorelasi untuk membuat suatu data penginderaan jauh. Data penginderaan jauh dalam survei tata guna lahan dapat dijadikan sebagai pedoman informasi tata guna lahan pada suatu daerah yang diamati. Dari informasi tersebut maka dapat direncanakan penggunaan lahan yang sesuai dengan kriteria lahan yang ada, maka kejadian seperti banjir, kemacetan dan alih fungsi lahan lain yang merugikan dapat dihindari dengan matang.
Sistem penginderaan jauh sangat berperan aktif dalam membantu identifikasi, pengelompokan dan inventarisasi alam dengan data yang diperoleh mudah dan cepat serta akirat hal ini dapat menjawab semua permasalahan yang terjadi dibantu dengan teknologi yang dari hari ke hari terus meningkat.
No comments:
Post a Comment